Create your own banner at mybannermaker.com!
mudi falah hidha - kertosono - office MTsN Juwet kab. nganjuk

Jumat, 21 Maret 2014

PREDIKSI SOAL UNAS SMP/ MTs TAHUN 2014

Buat adik- adik pelajar SMP ataupun MTs yang lagi butuh kumpulan soal- soal UNAS 2014. Saya punya soal- soal prediksi Ujian Nasional 2014 yang sesuai dengan kisi- kisi 2014. Soal ini ada beberapa pilihan paket disertai dengan kunci jawabannya.
Langsung aja ke TKP buat download ....
 IPA

DOMNIS, POS, DAN PERMEN UJIAN NASIONAL 2014

Yang lagi cari Domnis atau Pedoman Teknis Pelaksanaan Ujian Nasional dan Ujian Sekolah atau Madrasah SMP/ MTs dan SMA/ MA Tahun Pelajaran 2013/ 2014, POS dan Perubahannya, Permen 97 tahun 2013, dapat langsung mengunduh file berikut... 

DOMNIS UN, US TAHUN 2013/ 2014

Permen 97 tahun 2013

Perubahan POS UN 2014

POS UN tahun 2013/ 2014

Kamis, 27 Februari 2014

PERUBAHAN MAKNA KATA

A. AMELIORATIF

Pada awalnya, kata ini memiliki makna kurang baik, kurang positif, dan tidak menguntungkan, tetapi pada akhirnya mengandung pengertian makna yang baik, positif, dan menguntungkan.

Contoh : Wanita, pramunikmat, dan warakawuri merupakan kata kata yang dipakai untuk lebih menghaluskan dan menynpankan pengertian yang terkandung dalam kata kata tersebut.

B. ASOSIASI

Yang tergolong ke dalam perubahan makna ini adalah kata-kata dengan makna-makna yang muncul karena persamaan sifat. Sering kita mendengar kalimat "hati-hati dengan tukang catut itu." tukang catut dalam kalimat di atas tergolong kata-kata dengan makna Asosiatif.

begitu pula dengan kata kacamata dalam : menurut kacamata saya, dan sebagainya.

C. PEYORATIF

Makna kata sekarang mengalami penurunan nilai rasa kata daripada makna kata pada awal pemakaianya. Contoh : kawin, gerombolan, oknum, dan perempuan terasa memiliki konotasi menurun atau negatif.

D. SPESIALISASI/MENYEMPIT

Kata yang tergolong ke dalam perubahan makna ini adalah kata yang pada awal penggunaanya bisa dipakai untuk berbagai hal umum, tetapi penggunaanya saat ini hanya terbatas untuk satu keadaan saja. Contoh : sastra dahulu di pakai untuk pengertian tulisan dalam arti luas atau umum, sedangkan sekarang hanya di maknakan dengan tulisan yang berbau seni.

E. SINESTESIA

Perubahan makna terjadi karena pertukaran tanggapan antara dua indra, misalnya dari indra pengecap ke indra penglihatan. Contoh : gadis itu berwajah manis. Kata manis mengandung makna enak, biasanya dirasakan oleh alat pengecap, berubah menjadi bagus, dirasakan oleh indra penglihatan. Demikian juga kata panas, kasar, sejuk, dsb.

F. MELUAS/GENERALISASI

Penggunaan kata ini berkebalikan dengan pengertian menyempit. Contoh : petani, dahulu di pakai untuk seseorang yang bekerja dan menggantungkan hidupnya dari mengerjakan sawah, tetapi sekarang kata tsb dipakai untuk keadaan yang lebih luas. Penggunaan pengertian petani ikan, petani tambak, dan petani lele merupakan bukti bahwa kata petani meluas penggunaanya.

MAJAS, UNGKAPAN, DAN PERIBAHASA



Majas

Majas atau gaya bahasa adalah cara pengarang atau seseorang yang mempergunakan bahasa sebagai alat mengekspresikan perasaan dan buah pikiran yang terpendam di dalam jiwanya.

Secara umum majas dibagi  menjadi empat bagian yaitu perbandingan, sindiran, penegasan dan, pertentangan. Keterangan lebih lanjut bisa dibaca di bawah ini.

A. Macam-macam Majas Penegasan

    Majas Klimaks : Adalah semacam gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal yang dituntut semakin lama semakin meningkat. Contoh : Kesengsaraan membuahkan kesabaran, kesabaran pengalaman, dan pengalaman harapan.
    Majas Antiklimaks: Adalah gaya bahasa yang menyatakan beberapa hal berurutan semakin lma semakin menurun. Contoh : Ketua pengadilan negeri itu adalah orang yang kaya, pendiam, dan tidak terkenal namany
    Majas Koreksio: Adalah gaya bahasa yang mula-mula menegaskan sesuatu, tetapi kemudian memperbaikinya. Contoh : Silakan pulang saudara-saudara, eh maaf, silakan makan.
    Majas Asindeton : Adalah gaya bahasa yang menyebutkan secara berturut-turut tanpa menggunakan kata penghubung agar perhatian pembaca beralih pada hal yang disebutkan. Contoh : Dan kesesakan kesedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.
    Majas  Interupsi  adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau bagian kalimat yang disisipkan di dalam kalimat pokok untuk lebih menjelaskan sesuatu dalam kalimat. Contoh : Tiba-tiba ia-suami itu disebut oleh perempuan lain.
    Majas Eksklmasio : Adalah gaya bahasa yang menggunakan kata-kata seru atau tiruan bunyi. Contoh : Wah, biar ku peluk, dengan tangan menggigil.
    Majas Enumerasio : Adalah beberapa peristiwa yang membentuk satu kesatuan, dilukiskan satu persatu agar tiap peristiwa dalam keseluruhannya tanpak dengan jelas. Contoh : Laut tenang. Di atas permadani biru itu tanpak satu-satunya perahu nelayan meluncur perlahan-lahan. Angin berhempus sepoi-sepoi. Bulan bersinar dengan terangnya. Disana-sini bintang-bintang gemerlapan. Semuanya berpadu membentuk suatu lukisan yang haromonis. Itulah keindahan sejati.
    Majas Silepsis dan Zeugma : Adalah gaya dimana orang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan menghubungkan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan sebuah kata dengan dua kata yang lain sebenarnya hanya salah satunya mempunyai hubungan dengan kata pertama. Contoh : ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat kepada kami.
    Majas Apofasis atau Preterisio : Adalah gaya bahasa dimana penulis atau pengarang menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal. Contoh : Saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara
    Majas Pleonasme: Menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak diperlukan. Contoh: Saya naik tangga ke atas.
    Majas Aliterasi:  Adalah gaya bahasa berupa perulangan bunyi vokal yang sama. Contoh : Keras-keras kena air lembut juga
    Majas Paralelisme: Adalah gaya bahasa penegasan yang berupa pengulangan kata pada baris  atau kalimat. Contoh : Jika kamu minta, aku akan datang
    Majas Tautologi: Adalah gaya bahasa yang mengulang sebuah kata dalam kalimat atau mempergunakan kata-kata yang diterangkan atau mendahului. Contoh : Kejadian itu tidak saya inginkan dan tidak saya harapkan
    Majas Antanaklasis adalah yang mengandung ulangan kata yang sama dengan makna yang berbeda. Contoh : Ibu membawa buah tangan, yaitu buah apel merah
    Majas Anastrof atau Inversi : Adalah gaya bahasa yang dalam pengungkapannya predikat kalimat mendahului subejeknya karena lebih diutamakan. Contoh : Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat peranginya.
    Majas Retoris : Adalah pernyataan yang dipergunakan dalam pidato atau tulisan dengan tujuan untuk mencapai efek yang lebih mendalam dan penekanan yang wajar, dan sama sekali tidak menghendaki adanya suatu jawaban. Contoh : Siapakah yang tidak ingin hidup ?
    Majas Elipsis: Adalah gaya bahasa yang berwujud menghilangkan suatu unsur kalimat yang dengan mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca. Contoh : Kami ke rumah nenek ( penghilangan predikat pergi )
    Majas Alonim: Penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.
    Majas Kolokasi: Asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.
    Majas Pararima: Pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
    Majas Preterito: Ungkapan penegasan dengan cara menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
    Majas Sigmatisme: Pengulangan bunyi “s” untuk efek tertentu.
    Majas Polisindenton: Pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.

B. Macam -macam Majas Perbandingan

    Majas Litotes: Ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri. Contoh: Terimalah kado yang tidak berharga ini sebagai tanda terima kasihku atau Mampirlah ke gubuk saya ( Padahal rumahnya besar dan mewah )
    Majas Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.ah mencapai langit. Contoh: Kita berjuang sampai titik darah penghabisan
    Majas Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia. Atau yang mengumpamakan benda mati sebagai makhluk hidup. Contoh: Hujan itu menari-nari di atas genting
    Majas Simile : Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, ” umpama”, “ibarat”,”bak”, bagai”.  Membandingkan suatu dengan keadaan lain yang sesuai dengan keadaan yang dilukiskannya. contoh: Kau umpama air aku bagai minyaknya, bagaikan Qais dan Laila yang dimabuk cinta berkorban apa saja.
    Majas Metafora: Gaya Bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama. contoh: Cuaca mendung karena sang raja siang enggan menampakkan diri.
    Majas Antropomorfisme: Metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal yang bukan manusia.
    Majas Sinestesia: yang berupa suatu ungkapan rasa dari suatu indra yang dicurahkan lewat ungkapan rasa indra lainnya.
    Majas Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran. Contoh: Perjalanan hidup manusia seperti sungai yang mengalir menyusuri tebing-tebing, yang kadang-kadang sulit ditebak kedalamannya, yang rela menerima segala sampah, dan yang pada akhirnya berhenti ketika bertemu dengan laut.
    Majas Totum pro parte: Pengungkapan keseluruhan objek padahal yang dimaksud hanya sebagian. contoh:Indonesia bertanding volly melawan Thailand.
    Majas Eufimisme: Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus. contoh:Dimana saya bisa menemukan kamar kecilnya?
    Majas Disfemisme: Pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.
    Majas Fabel: Menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata. contoh:Perilakunya seperti ular yang menggeliat.
    Majas Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
    Majas Perifrasa: Ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.
    Majas Eponim: Menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata. contoh:Kita bermain ke rumah Ina.
    Majas Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.
    Majas Asosiasi: perbandingan terhadap dua hal yang berbeda, namun dinyatakan sama. Contoh: Masalahnya rumit, susah mencari jalan keluarnya seperti benang kusut.
    Majas  Alusio: Pemakaian ungkapan yang tidak diselesaikan karena sudah dikenal. Contoh: Sudah dua hari ia tidak terlihat batang hidungnya
    Majas Antonomasia: Adalah yang menyebutkan sifat atau ciri tubuh, gelar atau jabatan seseorang sebagai pengganti nama diri. Contoh : Yang Mulia tak dapat menghadiri pertemuan ini.
    Majas Aptronim: Pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.
    Majas Metonimia: Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut. Contoh:Ia menggunakan Jupiter jika pergi ke sekolah (Motor merk Jupiter)
    Majas Hipokorisme: Penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.
    Majas Depersonifikasi: Pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.
    Majas Pars pro toto: Pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek. contoh:Sejak kemarin dia tidak kelihatan batang hidungnya.

C. Macam-macam Majas Pertentangan

    Majas Oksimoron : adalah gaya bahasa yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frasa yang sama. Contoh : Keramah-tamahan yang bengis
    Majas Antitesis : Adalah gaya bahasa yang menggunakan pasangan kata yang berlawanan maknanya. Contoh : Kaya miskin, tua muda, besar kecil, smuanya mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa.
    Majas Anakronisme : Adalah gaya bahasa yang menunjukkan adanya ketidak sesuaian uraian dalam karya sastra dalam sejarah, sedangkan sesuatu yang disebutkan belum ada saat itu. Contoh : dalam tulisan Cesar, Shakespeare menuliskan jam berbunyi tiga kali (saat itu jam belum ada)
    Majas Paradoks : Adalah gaya bahasa yang mengemukakan hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya tidak karena objek yang dikemukakan berbeda. Contoh : Dia besar tetapi nyalinya kecil.
    Majas Reptisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai
    Majas Kontradiksi interminus: Pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.

D. Macam-macam Majas Sindiran

    Majas Sinisme : Ungkapan yang bersifat mencemooh pikiran atau ide bahwa kebaikan terdapat pada manusia (lebih kasar dari ironi). Contoh: Kamu kan sudah pintar ? Mengapa harus bertanya kepadaku ?
    Majas Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll. Ungkapan yang menertawakan atau menolak sesuatu. Contoh : Ya, Ampun! Soal mudah kayak gini, kau tak bisa mengerjakannya!
    Majas Innuendo: Adalah gaya bahasa sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenarnya. Contoh : Ia menjadi kaya raya karena mengadakan kemoersialisasi jabatannya
    Majas Ironi: Sindiran dengan menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut. Contoh: Suaramu merdu seperti kaset kusut.
    Majas Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.  Adalah gaya bahasa yang paling kasar, bahkan kadang-kadang merupakan kutukan. Contoh: Mampuspun aku tak peduli, diberi nasihat aku tak peduli, diberi nasihat masuk ketelinga

Ungkapan (Idiom)

Idiom (dari bahasa Belanda: idioom; bahasa Latin: idioma, "properti khusus"; bahasa Yunani: ἰδίωμα - "ungkapan khusus"). Ungkapan atau idiom adalah kelompok kata untuk menyatakan sesuatu maksud dalam arti kias.


Contoh:

a. Ungkapan dengan bagian tubuh

1. kecil hati = penakut

2. tebal muka = tidak mempunyai rasa malu

3. hati kecil = maksud yang sebenarnya

4. kecil hati = agak marah; penakut

5. besar hati = a) sombong; b) bangga

6. hati terbuka = senang hati

7. berat hati = kurang suka melakukan

8. lapang hati = sabar

9. tinggi hati = sombong

10. setengah hati = segan-segan

11. berkeras hati = a) menurut kemauannya sendiri;

                    b) tidak mau mundur.

12. jatuh hati = menjadi cinta

13. mendua hati = bimbang

14. berhati jantung = berperasaan halis

15. berhati batu = tidak menaruh belas kasihan

16. berhati tungau = penakut

b. Ungkapan dengan kata indra

1. perang dingin = perang tanpa senjata, hanya saling menggertak

2. uang panas = uang yang tidak halal

3. melihat dengan mata kepala = secara langsung

4. memasang mata = melihat baik-baik

5. membuang mata = melihat-lihat

6. terbuka matanya = mulai tahu/mengerti

7. mata telinga = kaki tangan

8. mata hati = perasaan dalam hati


c. Ungkapan dengan nama binatang
1) kambing hitam = orang yang disalahkan
2) kuda hitam = pemenang yang tidak diunggulkan


d. Ungkapan dengan bagian-bagian tumbuhan
1) sebatang kara = hidup seorang diri
2) naik daun = mendapat nasib baik


e. Ungkapan dengan kata bilangan
1. berbadan dua = sedang mengandung
2. diam seribu bahasa = tidak berkata sepatah kata pun
3. bersatu padu = bersatu benar-benar
4. bersatu hati = seiya sekata
6. tiada duanya = tidak ada bandingannya
7. telah dua kepalanya = mabuk
8. mendua hati = ragu-ragu
9. setengah hati = tidak dengan bersungguh-sungguh
10. bekerja setengah-setengah = tanggung
11. jalan tengah = keputusan yang diambil dari dua pendapat secara adil
12. setengah tiang = pengibaran bendera tanda berduka cita
13. masuk tiga, keluar empat = membenjakan uang lebih besar dari penghasilannya
14. pertemuan empat mata = pertemuan hanya dua orang
15. kaki lima = lantai di muka pinti atau di tepi jalan
16. tujuh keliling = nama penyakit kepala yang sangat keras

Peribahasa

Peribahasa adalah ayat atau kelompok kata yang mempunyai susunan yang tetap dan mengandung pengertian tertentu, bidal, pepatah. Sebuah pepatah yang menjelaskan aturan dasar perilaku mungkin juga dikenal sebagai sebuah pepatah. Jika peribahasa dibedakan dengan ungkapan yang sangat baik, mungkin akan dikenal sebagai sebuah aforisme.

Beberapa peribahasa merupakan perumpamaan yaitu perbandingan makna yang sangat jelas karena didahului oleh perkataan "seolah-olah", "ibarat", "bak", "seperti", "laksana", "macam", "bagai", dan "umpama".

 Ada uang abang disayang, tak ada uang abang melayang.

Hanya mau bersama saat sedang senang saja, tak mau tahu di saat sedang susah.

Menang jadi arang, kalah jadi abu.

Kalah ataupun menang sama-sama menderita.

Bagaikan abu di atas tanggul.

Orang yang sedang berada pada kedudukan yang sulit dan mudah jatuh.

Ada Padang ada belalang, ada air ada pula ikan.

Di mana pun berada pasti akan tersedia rezeki buat kita.

Adat pasang turun naik.

Kehidupan di dunia ini tak ada yang abadi, semua senantiasa silih berganti.

Membagi sama adil, memotong sama panjang.

Jika membagi maupun memutuskan sesuatu hendaknya harus adil dan tidak berat sebelah.

Air beriak tanda tak dalam.

Orang yang banyak bicara biasanya tak banyak ilmunya.

Air tenang menghanyutkan.

Orang yang kelihatannya pendiam, namun ternyata banyak menyimpan ilmu pengetahuan dalam pikirannya.

Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga.

Sifat-sifat anak biasanya menurun dari sifat orangtuanya.

Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi.

Menuntut ilmu hendaknya sepenuh hati dan tidak tanggung-tanggung agar mencapai hasil yang baik.

Sepandai-pandai tupai melompat, sekali waktu jatuh juga.

Sepandai-pandainya manusia, suatu saat pasti pernah melakukan kesalahan juga.

Tong kosong nyaring bunyinya.

Orang sombong dan banyak bicara biasanya tidak berilmu.

Tong penuh tidak berguncang, tong setengah yang berguncang.

Orang yang berilmu tidak akan banyak bicara, tetapi orang bodoh biasanya banyak bicara seolah-olah tahu banyak hal.

Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi.

Orang tua yang bersikap seperti anak muda, terutama dalam masalah percintaan.

Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Karena kesalahan kecil, menghilangkan semua kebaikan yang telah diperbuat.

Bagaikan burung di dalam sangkar.

Seseorang yang merasa hidupnya dikekang.

Terbuat dari emas sekalipun, sangkar tetap sangkar juga.

Meskipun hidup dalam kemewahan tetapi terkekang, hati tetap merasa tersiksa juga.

Sakit sama mengaduh, luka sama mengeluh.

Seiya sekata dalam semua keadaan.

Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih.

Segala sesuatu dalam kehidupan bukan manusia yang menentukan.

Barangsiapa menggali lubang, ia juga terperosok ke dalamnya.

Bermaksud mencelakakan orang lain, tetapi dirinya juga ikut terkena celaka.

Jauh di mata dekat di hati

Dua orang yang tetap merasa dekat meski tinggal berjauhan.

Seberat-berat mata memandang, berat juga bahu memikul.

Seberat apapun penderitaan orang yang melihat, masih lebih menderita orang yang mengalaminya.

Minggu, 16 Februari 2014

PENILAIAN KINERJA GURU ( PKG )

Penjelasan lengkap tentang Penilaian Kinerja Guru / PKG dapat di unduh pada file berikut :

Buku 1 PKB
Buku 2 Pedoman PKG
Buku 4 Pedoman PKB dan Angka Kreditnya
Buku 5 Pedoman Penilaian Kegiatan PKB
SIMULASI PKG


SASARAN KERJA PEGAWAI ( SKP )

Mulai Januari 2014, penilaian guru atau lebih dikenal dengan istilah DP3 sudah tidak berlaku lagi. Sebagai gantinya untuk menilai kinerja Pegawai Negeri Sipil / PNS digunakanlah Sasaran Kerja Pegawai atau biasa dikenal dengan SKP. Tapi sayang, adanya perubahan ini belum dibarengi dengan sosialisasi secara merata sehingga banyak instansi yang belum sepenuhnya paham. Sekedar berbagi saja.....di madrasah saya sudah melaksanakan penilaian SKP untuk guru- guru PNS nya. Berikut saya share segala sesuatu tentang SKP yang pernah saya ikuti di pelatihan- pelatihan...langsung unduh ...

Rabu, 12 Februari 2014

KUMPULAN CERPEN

 
`